BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negeri yang kaya. Selain kaya akan sumber daya alamnya yang memang sudah terkenal luas. Nusantara Indonesia juga kaya akan aneka ragam karya sastranya, yang tersebar luas di setiap pelosok wilayah di Indonesia. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik, dan jarang dimiliki oleh negara-negara lain di dunia. Nusantara kita tercinta ini banyak menyimpan keunikan-keunikan di setiap daerahnya. Di setiap daerah di Indonesia secara alamiah mempunyai tradisi-tradisi yang begitu beragam, dari tradisi lisan sampai tradisi tulisan. Tradisi-tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang dahulu telah menciptakan tradisi-tradisi, yang secara langsung maupun tidak langsung tertransformasikan kegenerasi berikutnya, sehingga ada sampai saat ini. Meskipun ada juga tradisi-tradisi yang telah punah. Tradisi lisan merupakan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat daerah tertentu, karena dianggap sakral atau, akan memberikan suatu pengaruh, baik itu pengaruh positif atau negatif dari pelakunya yang dituturkan secara lisan.
Salah satu dari beberapa tradisi lisan yang tidak jarang kita temui yaitu pupujian. Pupujian merupakan bagian dari tradisi lisan yang masih sering kita temui, di berbagai daerah di indonesia. Pupujian yaitu puisi yang isinya mengenai puja-puji, doa, nasihat, dan ajaran yang dijiwai oleh ajaran islam. Tradisi ini pada awalnya hidup di lingkungan pesantren dan tempat-tempat pengajian yang memiliki hubungan erat dengan ajaran islam. Pupujian ini mempunyai fungsi ekspresi dan fungsi sosial. Pupujian saat ini sudah jarang kita temui di kota-kota besar. Seakan sudah terkikis oleh gemerlapnya kehidupan modern dari masyarakat perkotaan. Beda halnya dengan di daerah-daerah pedesaan yang masih memegang teguh tradisi-tradisi yang memang cukup penting dilakukan bagi masyarakat di daerah tersebut. Budaya-budaya, atau tradisi-tradisi lisan yang semula ada, lama kelamaan akan terkikis jika kita sebagai penerus bangsa mengesampingkan persoalan-persoalan mengenai tradisi-tradisi dari nenek moyang terdahulu, karena sejarah pada masa lalu sangat mempengaruhi kehidupan pada masa sekarang.
Beranjak dari persoalan tersebut peneliti membuat suatu hasil analisis mengenai salahsatu dari tradisi lisan yaitu pupujian yang sekarang keberadaannya memang masih cukup banyak, namun kurang diperhatikan oleh masyarakat pada umumnya. Ada beberapa aspek yang akan di bahas dalam peneltian ini, yaitu :
1. Struktur teks pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
2. Proses penciptaan puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
3. Konteks penuturan yang terdapat dalam puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Kabupaten Haurgeulis Indramayu Jawa Barat.
4. Fungsi dari pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Kabupaten Haurgeulis Indramayu Jawa Barat.
5. Makna yang terkandung dalam pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Kabupaten Haurgeulis Indramayu Jawa Barat.
1.2 Masalah
Dalam penelitian ini ada beberapa masalah yang disajikan yaitu:
1. Bagaimana Struktur teks pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
2. Bagaimana Proses penciptaan puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Kabupaten Haurgeulis Indramayu Jawa Barat.
3. Bagaimana Konteks penuturan yang terdapat dalam puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
4. Apa Fungsi dari pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
5. Apa makna yang terkandung dalam pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini berangkat dari masalah-masalah yang hadir, pembahasan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal berikut :
1. Struktur teks pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
2. Proses penciptaan puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
3. Konteks penuturan yang terdapat dalam puisi pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
4. Fungsi dari pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
5. Makna yang terkandung dalam pupujian adan di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitia ini yaitu :
1. Sebagai sarana untuk menjaga tradisi bangsa agar tidak mudah hilang di tengah arus globalisasi.
2. Sebagai apresiasi terhadap keragaman budaya dan tradisi yang ada di Indonesia sehingga masyarakat luas dapat mengetahui tradisi tersebut.
3. Menumbuhkan rasa kebermilikan terhadap tradisi-tradisi sastra yang ada di Indonesia.
Di sisi lain, selain sebagai bentuk interaksi kita terhadap sang pencipta, pupujian ini juga bermanfaat sebagai alat interaksi sosial antar sesama, dan juga dapat digunakan sebagai alat hiburan bagi masyarakat pada umumnya.
BAB 2
HASIL ANALISIS ‘PUPUJIAN ADAN’
2.1 Pupujian Adan
Analisis yang dilakukan yaitu menganalisis struktur teks dari pupujian adan, yang berada di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Bahasa yang digunakan pada saat pupujian menggunakan bahasa jawa (Jawa-Indramayu). Peneliti memilih teks pupujian adan karena pada diksi, dan gaya bahasa yang terkandung dalam pupujian tersebut begitu menarik perhatian peneliti khususnya, yang pada akhirnya bermuara pada rumusan analisis mengenai struktur, proses penciptaan, penuturan, fungsi dan makna yang terkandung dalam pupujian tersebut.
2.1.1 Analisis Struktur Teks Pupujian
Teks pupujian yang dianalisis merupakan teks pupujian yang digunakan pada saat memanggil warga untuk melaksanakan sholat, khususnya sholat magrib. Berikut ini teks pupujian adan:
Teks asli :
[setelah adzan magrib berkumandang]
Allahummasholiwasalimwabarik’alaik
Allahuma shali shalatan, kamilatan wassalimsalaman
Tamman alasaiidina muhammadanilladzi tanhalun
Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka
Di kentongi diadani ora teka, iku wong bakal cilaka
Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat
Tinggal solat siksane berat, mbesukning alam akhirat
Sugi sawah sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil
Harta benda ora ngintil, singintil amal secuil
Teks terjemahan :
[setelah adzan magrib berkumandang]
Allahummasholiwasalimwabarik’alaik
Allahuma shali shalatan, kamilatan wassalimsalaman
Tamman alasaiidina muhammadanilladzi tanhalun
Dikentongin, di adzanin ga datang-datang, orang itu bakal celaka.
Dikentongin, di adzanin ga datang-datang, orang itu bakal celaka.
Seruan nabi, umat islam jangan pernah meninggalkan sholat
Meninggalkan sholat nanti siksaannya berat di alam akhirat
Banyak sawah, banyak mobil, besok mati naik keranda
Harta benda tidak akan ikut, yang ikut amal sedikit.
2.1.1.1 Formula Sintaksis
Dapat diperhatikan bahwa teks pupujian di atas terdiri dari sembilam baris, yang terdiri dari tiga baris yang berbahasa arab, dan enam baris yang berbahasa jawa (Indramayu). Pada bagian ini baris-baris pada pupujian tersebut akan dianalisis ditinjau dari aspek sintaksisnya, yang akan diuraikan dalam : fungsi, kategori, dan peran setiap bagian-bagian teks pupujian tersebut.
Baris pertama sampai baris ketiga pada teks pupujian di atas merupakan sebuah bentuk frase fatis yang digunakan pada waktu pembicara memulai interaksi atau penuturannya. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan pembicaraan antara kawan bicara dan pembicara (Harimurti 1986:111). Lebih jelasnya sebelum inti dari pupujian ini dilantunkan, penutur melantunkan terlebih dahulu baris satu sampai tiga terlebih dahulu.
Apabila baris pertama sampai baris ketiga telah selesai dilantunkan penutur langsung melantunkan baris inti yaitu baris keempat sampai baris kesembilan. Pada umumnya katagori fatis merupakan ciri ragam lisan nonstandar. Pada baris pertama sampai baris ketiga Allahummasholiwasalimwabarik’alaik, Allahuma shali shalatan, kamilatan wassalimsalaman, Tamman alasaiidina muhammadanilladzitanhalun, ketiga baris tersebut merupakan salah satu bentuk dari kategori fatis, yaitu frase fatis. Ketiga baris tersebut dilantunkan oleh para penutur pupujian sebelum memasuki inti dari pupujian tersebut.
Baris keempat pada teks pupujian di atas termasuk dalam jenis kalimat himbauan, karena pada baris kedua ini berfungsi menghimbau kepada para warga sekitar bahwa sholat berjamaah akan segera ditunaikan ‘Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka’ yang berarti ketika sudah mendengar kentongan dan suara adzan maka segeralah bersiap-siap dan bergegas untuk sholat berjamaah ke masjid. Pola dari baris tersebut adalah S+P+K . Dapat diperhatikan pada tabel berikut:
| Analisis Sintaksis | Iku wong | Dikentongi diadani ora teka | bakal cilaka |
| Fungsi | S | P | K |
| Kategori | N | V | V |
| Peran | Pelaku | Pekerjaan | Hasil |
Dari analisis baris kempat dapat diketahui, bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘Iku wong, yang berkategori sebagai kata benda, dan berperan sebagai pelaku, sebenarnya jika diperhatikan lebih jelas ada pelesapan subjek sebelum kata ‘dikentongi diadanai’, yang seharusnya ‘iku wong dikentongi, iku wong diadani’, pelesapan subjek yang terjadi mungkin dimaksudkan untuk lebih menekankan pada fungsi verbanya, dan juga memperhatikan bunyi, sehingga subjek dilesapkan. Fungsi predikat diisi oleh ‘Dikentongi diadani ora teka’, yang berkategori verba, dan berperan sebagai perbuatan.. Keterangan diisi oleh ‘bakal cilaka’, yang berkategori kata kerja (verba), dan berperan sebagai hasil dari perbuatan.
Baris kelima sama halnya dengan baris keempat, karena kalimatnya serupa. Baris kelima adalah pengulangan dari baris ke empat. Jadi baris keempat ‘Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka’, dibacakan lagi pada baris kelima. Oleh karena itu fungsi, kategori ataupun perannya masih sama seperti baris keempat.
Baris keenam juga sama seperti baris keempat dan kelima yang termasuk ke dalam kalimat perintah, karena pada baris keenam berfungsi sebagai perintah kepada umat islam agar jangan meninggalkan sholat. Dapat diperhatikan ‘Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat’, yang berarti nabi Muhammad telah menyerukan kepada umatnya khususnya umat islam agar jangan pernah meninggalkan sholat. Baris keenam ini memiliki pola S+P. Dapat diperhatikan tabel berikut:
| Analisis sintaksis | Dawuh nabi sakabeh umat | aja tinggal solat’ |
| Fungsi | S | P |
| Kategori | N | V |
| Peran | Pelaku | Perbuatan |
Dari hasil analisis di atas dapat diketahui fungsi subjek diisi oleh ‘Dawuh nabi sakabeh umat’, yang berkategori kata benda (nomina), dan berperan sebagai keterangan yang menyatakan pelaku. Fungis predikat diisi oleh aja tinggal solat, yang berkategori kata kerja (verba), yang berperan sebagai perbuatan dari subjek.
Pada baris ketujuh pupujian di atas, termasuk dalam jenis kalimat berita, karena baris ketujuh berfungsi memberitahukan kepada umat islam bahwa jika meninggalkan sholat maka akan mendapatkan siksaan yang berat. Dapat diperhatikan ‘Tinggal solat siksane berat, mbesukning alam akhirat’, yang artinya jika kita meninggalkan sholat lima waktu maka nanti di alam akhirat akan mendapatkan siksaan yang berat. baris ketujuh memiliki pola P+K. Dapat diperhatikan pada tabel berikut:
| Analisis Sintaksis | Tinggal solat siksane berat | mbesukning alam akhirat |
| Fungsi | P | K |
| Kategori | V | N |
| Peran | Perbuatan | Waktu, Tempat |
Dari hasil analisis baris ketujuh, dapat diketahui bahwa fungsi predikat diisi oleh Tinggal solat siksane berat, yang berkategori verba, dan berperan sebagai perbuatan. Fungsi keterangan diisi oleh mbesukning alam akhirat, yang berkategori nomina, dan berperan menerangkan waktu dan tempat.
Baris kedelapan pupujian di atas, termasuk delam jenis kalimat berita, karena baris kedelapan ini berfungsi memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Dapat diperhatikan ‘Sugi sawah sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil’, yang berarti banyak harta, seperti sawah dan mobil tidak dapat menjamin amal kita, dan jika meninggal dunia akan naik keranda sama halnya dengan orang pada umumnya. Baris kedelapan ini berpola S+K. Dapat diperhatikan pada tabel berikut :
| Analisis Sintaksis | Sugi sawah sugi mobil | mbesuk mati tunggangane katil’ |
| Fungsi | S | K |
| Kategori | N | V |
| Peran | Jumlah | Waktu, benda |
Dari hasil analisis sintaksis baris kedelapan, dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘Sugi sawah sugi mobil’, yang berkatgori sebagai kata benda (nomina), dan berperan menyatakan jumlah. Fungsi keterangan diisi oleh ‘mbesuk mati tunggangane katil’, yang berkategori kata kerja (verba), dan berperan menerangkan waktu (mbesuk) dan benda (katil).
Baris kesembilan pada pupujian di atas, termasuk dalam jenis kalimat berita, karena baris kesembilan ini berfungsi memberitahukan sesuatu kepada orang lain. Dapat diperhatikan ‘Harta benda ora ngintil, singintil amal secuil’, yang berarti memberitahukan bahwa harta benda yang kita miliki tidak akan ikut jika nanti kita meninggal, yang ikut hanyalah amal yang sedikit. Baris kesembilan memiliki pola S+P+Pel. Dapat diperhatikan pada tabel berikut :
| Analisis Sintaksis | Harta benda | ora ngintil, singintil | amal secuil’ |
| Fungsi | S | P | Pelengkap |
| Kategori | N | V | N |
| Peran | Pelaku | perbuatan | Benda |
Dari hasil analisis baris kesembilan, dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh kata ‘Harta benda’, yang berkategori kata benda (nomina), dan berperan sebagai pelaku. Fungsi predikat diisi oleh kata ‘ora ngintil, singintil’ yang berkategori sebagai kata kerja (verba), berperan sebagai perbuatan. Fungsi pelengkap diisi oleh ‘amal secuil’, yang berkategori nomina, dan berperan sebagai kata benda.
2.1.1.2 Formula Bunyi
Dari hasil analisis di atas, selain dapat di analisis dari aspek semantik, teks pupujian tersebut ternyata memiliki keunikan dalam hal bunyi-bunyian, sehingga menarik untuk diteliti lebih lanjut. Dapat diperhatikan dari dari teks Di kentongi, diadani, di sini terdengar bunyi huruf vokal (i) yang cukup dominan dan juga menumbulkan efek yang bunyi yang seirama. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada tabel berikut :
Tabel penelitian bunyi dari teks pupujian adan
| No. | Teks asli | Bunyi yang Terdengar Khas |
| 1 | Di kentongi, diadani ora teka iku wong bakal cilaka | Bunyi huruf vocal (i) dan (a) |
| 2 | Dawuh nabi sakabeh umat umat islam aja tinggal solat | Bunyi huruf konsonan (t) |
| 3 | Tinggal solat siksane berat mbesukning alam akhirat | Bunyi huruf konsonan (t) |
| 4 | Sugi sawah sugi mobil mbesuk mati tunggangane katil | Bunyi huruf konsonan (l) |
| 5 | Harta benda ora ngintil singintil amal secuil | Bunyi huruf konsonan (l) |
Dari analisis di atas, bentuk-bentuk bunyi vokal dan konsonan teks pupujian adan dapat disederhanakan dalam bentuk tabel berikut:
| No. | Bunyi Vokal | Bunyi Konsonan |
| 1 | /i/ /a/ /o/ | /b/ /s/ /l/ /h/ /r/ /m/ /n/ |
| 2 | /a/ /u/ /i/ | /l/ /h/ /m/ /s/ /t/ /n/ /k/ |
| 3 | /a/ /i/ /u/ | /t/ /m/ /n/ /l/ /s/ /d/ /h/ /z/ |
| 4 | /i/ /e/ /o/ /a/ /u/ | /d/ /k/ /t/ /n/ /g/ /w/ /b/ /l/ /c/ |
| 5 | /i/ /e/ /o/ /a/ /u/ | /d/ /k/ /t/ /n/ /g/ /w/ /b/ /l/ /c/ |
| 6 | /a/ /u/ /i/ /e/ /o/ | /d/ /w/ /h/ /n/ /b/ /s/ /k/ /m/ /t/ /l/ /j/ /g/ |
| 7 | /i/ /a/ /o/ /e/ /u/ | /t/ /n/ /g/ /l/ /s/ /k/ /b/ /m/ /h/ |
| 8 | /u/ /i/ /a/ /o/ e/ | /s/ /g/ /w/ /h/ /m/ /b/ /l/ /k/ /t/ /n/ |
| 9 | /a/ /e/ /o/ /i/ /u/ | /h/ /r/ /t/ /b/ /n/ /d/ /g/ /l/ /s/ /m/ |
Dapat di perhatikan pada tabel di atas, bahwa dari setiap baris memiliki kekhasan bunyi. Sehingga menumbulkan efek tersendiri jika dilafalkan.
Pada baris pertama asonansi yang muncul adalah bunyi huruf vokal /i/ pada kata /dikentongi/,/diadani/, terlihat di sini sangat kental sekali bunyi akhiran /i/ pada kedua kata tersebut. Selain bunyi huruf /i/, yang terasa ada juga bunyi huruf vokal /a/ yang begitu terasa, dapat kita rasakan pada konteks /diadani ora teka, iku wong bakal cilaka/. Efek yang timbul dari perpaduan huruf vokal tersebut adalah pengucapan yang terasa ringan terdengar.
Pada baris kedua aliterasi yang muncul adalah bunyi konsonan /t/ pada kata /umat/ / solat/ terdengar di sini begitu terasa bunyi akhiran /t/ pada kata-kata tersebut. Sehingga jika dibaca konteksnya / Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat/, terdengar bunyi konsonan /t/ di setiap akhir pelafalan konteks. Efek yang timbul dari huruf konsonan tersebut menimbulkan efek pengucapan yang terasa ada penekanan pada akhir pelafalan.
Pada baris ketiga sama halnya dengan baris kedua di sini muncul bunyi konsonan /t/ yang begitu khas terdengar pada kata /berat/ /akhirat/ terdengar di sini begitu terasa bunyi akhiran /t/ pada kata-kata tersebut. Sehingga jika dibaca konteksnya /Tinggal solat siksane berat, mbesukning alam akhirat/ terdengar bunyi konsonan /t/ di setiap akhir pelafalan konteks. Efek yang timbul dari huruf konsonan tersebut menimbulkan efek pengucapan yang terasa ada penekanan pada akhir pelafalan.
Pada baris keempat aliterasi yang menonjol adalah bunyi konsonan /l/, yang terdapat pada kata /mobil/ /katil/ terdengar begitu terasa bunyi hiruf /l/ pada kedua kata tersebut. Sehingga jika dibaca konteksnya / Sugi sawah sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil/ terdengar bunyi konsonan /l/ di setiap akhir pelafalan konteks. Efek yang timbul dari huruf konsonan tersebut menimbulkan efek pengucapan yang terasa ringan pada akhir pelafalan.
Pada baris kelima juga demikian, begitu terasa aliterasi yang menonjol adalah bunyi konsonan /l/, yang terdapat pada kata /ngintil/ /singintil/ /amal/ /secuil/, empat kata tersebut menimbulkan kekhasan bunyi yang terdapat pada baris terakhir dari pupujian adan. Sehingga jika dibaca konteksnya /Harta benda ora ngintil, singintil amal secuil/ terdengar bunyi konsonan /l/ di setiap akhir pelafalan konteks. Efek yang timbul dari huruf konsonan tersebut menimbulkan efek pengucapan yang terasa ringan pada akhir pelafalan.
Dari hasil analisis di atas asonansi yang menonjol adalah bunyi vokal /a/ dan /i/. Asonansi ini kadang-kadang berkombinasi dengan konsonan yang berat dan ringan, sehingga menimbulkan suara yang terdengar berat. Kombinasi ini tergantung pada pilihan kata yang digunakan. Pilihan yang cermat akan mampu menganalisis asonansi yang bagus.
2.1.1.3 Irama
Selain bunyi-bunyian yang khas, pupujian adan ini juga memiliki irama sebagai tanda yang menunjukkan panjang atau pendeknya pada saat pelafalan atau penuturannya. Jumlah suku kata dari setiap barisnya beragam, yakni ada yang 7,8, dan 9 suku kata. Irama untuk penutur teks pupujian ini bersifat mana suka, artinya penutur dapat dengan mudah menuturkan pupujian ini dengan irama masing-masing sesuai keinginan penutur.
Peneliti menggunakan tanda-tanda tertentu untuk menganalisis teks pupujiaan ini. Tanda itu antara lain: tanda (−) menandakan tanda panjang, tanda (∩) menandakan nada pendek, dan tanda (≥) menunjukkan nada yang sedang.
Tanda-tanda tersebut berlaku untuk setiap satu suku kata. Berikut ini formulasi irama pada teks pupujian adan.
| Allahummasholiwasalimwabarik’alaik | ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ≥ |
| Allahuma shali shalatan, kamilatan wassalimsalaman | ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ≥ |
| Tamman alasaiidina muhammadanilladzi tanhalun | ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ≥ |
| Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka | ∩ ∩ ∩ ≥ ∩ ∩ ∩ ≥ |
| Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka | ∩ ∩ ∩ ≥ ∩ ∩ ∩ ≥ |
| Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat | ∩ ∩ ∩ ≥ ∩ ∩ ∩ ∩≥ |
| Tinggal solat siksane berat, mbesukning alam akhirat | ∩ ≥ ∩ ≥ ∩ ∩ ≥ |
| Sugi sawah sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil | ∩ ≥ ∩ ≥ ∩ ≥ ∩ ≥ |
| Harta benda ora ngintil, singintil amal secuil | ∩ ≥ ∩ ≥ ∩ ∩ ≥ |
Keterangan : (−) : nada panjang lima ketukan
(≥) : nada panjang dua ketukan
(∩) : nada pendek
Dari hasil analisis irama pupujian di atas terdapat kekhasan irama pada setiap barisnya. Pada baris pertama irama yang timbul, yaitu nada pendek yang terjadi pada permulaan pelafalan, dan pada akhir pelafalan terdengar irama dengan nada dua ketukan. Pada baris kedua dan ketigapun demikian sama halnya dengan baris pertama, timbul irama dengan nada satu sampai dua ketukkan yang terjadi di awal dan di akhir pelafalan pupujian.
Pada baris keempat dan kelima terdapat komposisi irama yang khas, ada penekanan-penekanan tertentu pada beberapa kata seperti /ora teka/ dan /cilaka/ jadi pelafalan kedua kata tersebut dilafalkan dengan nada lebih dari satu ketukan. Pada baris keenam sama halnya seperti baris keempat dan kelima yang mempunyai irama yang berbeda pada beberapa kata seperti pada kata /umat/ dan /solat/ disetiap pelafalan kata tersebut irama yang terdengar, bernada lebih dari satu ketukkan.
Pada baris ketujuh, terjadi semacam persilangan nada panjang dan nada pendek, yang dihasilkan oleh kata-kata /solat/ /berat/ dan /akhirat/ yang dilafalkan dengan nada lebih dari satu ketukkan, dan kata-kata /tinggal/ /siksane/ dan /mbesukning alam/ yang dilafalkan dengan nada pendek. Ketika pelafalan kata-kata tersebut dilafalkan akan terjadi komposisi irama yang khas yang terdapat pada bari ketujuh.
Sama halnya dengan baris ketujuh, baris kedelapan, dan kesembilanpun demikian. Terjadi persilangan nada, atau percampuran nada panjang dan nada pendek yang menimbulkan irama khas yang timbul ketika baris kedelapan dan kesembilan dilafalkan.
Setelah dianalisis ternyata ada efek tersendiri dari bunyi atau irama /il/ yang terdengar. Ternyata bunyi akhiran /il/ yang terdengar dari sebagian besar komposisi bunyi dalam pupujian, memiliki efek merendahkan.
2.1.1.4 Gaya Bahasa
Pada teks pupujian adan ini ternyata terdapat penggunaan majas-majas seperti berikut:
2.1.1.4.1 Personifikasi dan Eufimisme
Majas personifikasi adalah gaya bahasa kias yang menunjukkan benda mati seolah-olah hidup. Eufimisme adalah gaya bahasa penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya
kesan yang tidak menyenangkan. Berikut ini konteks pupujian pada pupujian adan yang termasuk ke dalam majas personifikasi dan majas eufimisme :
Harta benda ora ngintil
Singintil amal secuil
Pada konteks di atas merupakan majas personifikasi. Pada konteks tersebut terkesan yang menunjukkan benda mati seolah-olah hidup. Dapat diperhaatikan ‘harta benda ora ngintil’(harta benda ga akan ikut) harta benda di sini yang termasuk kedalam benda mati terkesan seolah-olah hidup atau bergerak. Sama halnya pada konteks ‘singintil amal secuil’ (yang ikut amal sedikit) di sini juga terlihat benda mati yang terkesan dapat hidup dan bergerak sama halnya seperti makhluk hidup pada umumnya. Terlihat pada kedua konteks di atas harta benda dan amal di sini dapat bergerak mengikuti manusia. Eufimisme juga terjadi pada ‘singintil amal secuil’, yang bertujuan menghaluskan suatu pernyataan kepada warga bahwa harta benda kita tidak akan ikut, yang ikut hanyalah amal yang sedikit, meskipun pada kenyataannya memiliki amal yang banyak.
2.1.1.4.2 Ironi
Majas ironi adalah gaya bahasa sindiran secara halus yang menggunakan pola kalimat konotasi atau tidak bermakna sebenarnya. Berikut ini konteks pupujian pada pupujian adan yang termasuk ke dalam majas personifikasi :
Sugi sawah, sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil
Pada konteks di atas merupakan majas ironi, atau menyindir secara halus. Pada konteks tersebut terkesan menyindir kepada seseorang. Dapat diperhatikan ‘Sugi sawah, sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil’ (banyak sawah, banyak mobil, besok mati naik keranda). Jelas di sini terlihat sindiran yang cukup halus yang diberikan kepada seseorang yang memiliki harta yanng banyak, namun jika meninggal dunia dia hanya di menaiki keranda saja, hartanya tidak dapat terbawa.
2.1.1.4.3 Metonimia
Majas metonimia adalah majas yang hanya menggunakan nama atau merk benda saja yang dipakai manusia dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya. Berikut ini konteks pupujian pada pupujian adan yang termasuk ke dalam majas personifikasi :
Sugi sawah, sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil
Pada konteks di atas merupakan majas metonimia. Dapat diperhatikan ‘Sugi sawah, sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil’(banyak sawah, banyak mobil, besok mati naik keranda). Terliahat bahwa keranda di sini digunakan sebagai alat untuk membawa manusia yang telah meninggal dunia. Manusia hanya akan menaiki keranda jika mereka telah meninggal dunia.
2.1.1.5 Diksi
Penggunaan atau pemilihan kata yang digunakan teks pupujian adan yang bertujuan memanggil warga untuk segera muninakan sholat berjamaah di masjid, menggunakan bahasa jawa (indramayu). Ragam bahasanya merupakan ragam bahasa lisan pada umumnya, dan termasuk juga kedalam puisi pupujian.
Bahasa jawa (indramayu) yang digunakan pada pupujian tersebut adalah ragam bahasa sedang, yaitu ragam bahasa komunikasi untuk masyarakat secara luas. Hal itu bertujuan agar masyarakat di desa tersebut lebih memudahkan dalam proses punturan. Secara keseluruhan penggunaan kata dalam pupujian tersebut cukup komunikatif.
2.1.1.6 Tema
Allahummasholiwasalimwabarik’alaik
Allahuma shali shalatan, kamilatan wassalimsalaman
Tamman alasaiidina muhammadanilladzi tanhalun
Di kentongi, diadani ora teka, iku wong bakal cilaka
Di kentongi diadani ora teka, iku wong bakal cilaka
Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat
Tinggal solat siksane berat, mbesukning alam akhirat
Sugi sawah sugi mobil, mbesuk mati tunggangane katil
Harta benda ora ngintil, singintil amal secuil
Pupujian yaitu puisi yang isinya mengenai puja-puji, doa, nasihat, dan ajaran yang dijiwai oleh ajaran Islam.
Dari teks pupujian di atas dapat diperhatikan bahwa tujuan yang ingin dicapai terdapat pada baris keenam, Dawuh nabi sakabeh umat, umat islam aja tinggal solat, yakni inti dari tuturan yang dituturkan oleh penutur adalah agar para warga jangan meninggalkan sholat lima waktu.
Dalam menganalisis tema akan digunakan teori isotopi. Dalam analisis ini satu kata/frasa akan diidentifikasikan sebagai sesuatu yang memilik gagasan. Berikut analisisnya :
Teks pupujian di atas terdapat isotopi Tuhan, pekerjaan, alat, manusia, tempat/ruang.
2.1.1.6.1 Isotopi Tuhan
| Kata/frasa yang termasuk isotopi Tuhan | Intensitas | Denotasi Konotasi | Komponen makna bersama | ||
| Ruh | Dzat | Sifat | |||
| Allahummasholiwasallimwabarikalaik | 1x | Denotasi / konotasi | - | - | + |
| Allahummashalishalatan, kamilatanwassalimsalaman | 1x | Denotasi/ konotasi | - | - | + |
| Tammanalasaiidina muhammadanilladzi tanhalun | 1x | Denotasi/ konotasi | - | - | + |
Tabel di atas menunjukkan kata/frasa yang mengandung isotopi Tuhan hanya tiga buah kata/frasa. Dari komponen makna bersama hanya terdapat pada kata sifat, karana sifatnya mampu menguasai alam, kata tersebut dimasukkan ke dalam isotopi Tuhan. Ketiga frasa tersebut berkaitan dengan sesuatu yang disembah (Tuhan). Dengan demikina ketiga kata tersebut digolongkan ke dalam isotopi Tuhan.
2.1.1.6.2 Isotopi Manusia
| Kata/frasa yang termasuk isotopi manusia | Intensitas | Denotasi Konotasi | Komponen makna bersama | ||
| Tubuh/roh | Berakal budi | Aktivitas | |||
| Iku wong | 2x | Denotasi/ konotasi | + | + | + |
| Nabi | 1x | Denotasi | + | + | + |
| Sakabeh umat | 1x | Denotasi/ konotasi | + | + | + |
| Umat islam | 1x | Denotasi | + | + | + |
Tabel di atas menunjukkan kata/frasa yang mendukung isotopi manusia ada empat buah kata/frasa. Komponen makna bersama isotopi manusia adalah tubuh/roh, berakal budi, dan aktivitas. Ketiga-tiganya tepat atau ada pada keseluruhan anggota isotopi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang berada dalam pupujian ini adalah manusia yang sempurna. Artinya manusia mempunyai tubuh, berakal budi, dan dapat beraktivitas.
2.1.1.6.3 Isotopi Pekerjaan
| Kata/frasa yang termasuk isotopi pekerjaan | Intensitas | Denotasi Konotasi | Komponen makna bersama | ||
| perintah | aktivitas | Sifat | |||
| Dikentongi | 2x | Denotasi/ konnotasi | + | + | - |
| Diadani | 2x | Denotasi/ konotasi | + | + | - |
| Ora teka | 2x | Denotasi/ konotasi | - | + | + |
| Tinggal solat | 2x | Denotasi/ konotasi | - | + | + |
| Ora ngintil | 1x | Denotasi /Konotasi | - | + | + |
Tabel di atas menunjukkan kata/frasa yang mendukung isotopi pekerjaan ada lima buah kata/frasa. Dari komponen yang digambarkan, terlihat bahwa komponen aktivitas mendominasi pada pupujian adan, aktivitas rutin dari para para warga untuk memanggil warga yang lain agar datang ke masjid, untuk melaksanakan sholat berjamaah. dibandingkan komponen perintah dan komponen sifat. Kedua komponen makna tersebut menggambarkan perintah dan sifat-sifat dari komponen pupujian adan. Isotopi pekerjaan ini mendeskripsikan kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan (memanggil warga dengan cara dikentongi dan di adzani, untuk sholat berjamaah).
2.1.1.6.4 Isotopi Tempat/ruang
| Kata/frasa yang termasuk isotopi tempat/ruang | Intensitas | Denotasi Konotasi | Komponen makna bersama | ||
| Gaib | Terbatas | ||||
| Alam akhirat | 1x | Denotasi/ konotasi | + | + | |
| Sawah | 1x | Denotasi | - | + | |
Tabel di atas menunjukkan kata/frasa yang masuk ke dalam isotopi tempat/ruang. Komponen makna bersama isotopi tempat/ruang adalah ghaib dan terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa alam akhirat dan sawah sebagai ruang/tempat yang dipakai dalam pupujian ini. Isotopi ini mendeskripsikan tempat/ruang yang digunakan dalam pupujian ini.
2.1.1.6.5 Isotopi Benda
| Kata/frasa yang termasuk isotopi alat | Intensitas | Denotasi Konotasi | Komponen makna bersama | |
| 2 dimensi | 3 dimensi | |||
| Sawah | 2x | Denotasi/ konotasi | - | + |
| Mobil | 1x | Denotasi/ konotasi | - | + |
| Katil | 1x | Denotasi/ konotasi | - | + |
| Harta benda | 1x | Denotasi/ konotasi | - | + |
2.2 Proses Penciptaan
2.2.1 Proses Penurunan Teks dari Penutur Terdahulu Sampai Penutur Sekarang
Pupujian merupakan bagian dari tradisi lisan yang masih hidup dan berkembang, serta masih dipertahankan keberadaannya oleh masyrakat, terutama warga Indramayu Jawa Barat. Pupujian ini terus ada sampai sekarang, hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang mendukung dari keberadaan pupujian ini. Salah satu faktornya yaitu tranformasi. Transformasi adalah proses penurunan kembali suatu karya sastra yang bersifat lisan, biasanya bermula dari para pendahulu yang sering menggunakan karya sastra tersebut. Hal ini juga ada hubungannya dengan pupujian. Pupujian yang dahulu sering digunakan oleh orang-orang terdahulu, secara langsung ataupun tidak langsung tersalurkan kepada penerusnya hingga sekarang melalui lisan atau mulut-kemulut. Pepujian ini bersifat umum, sehingga tidak ada kriteria khusus yang harus dimiliki oleh para penuturnya. Hal ini menyebabkan pupujian ini bisa ada sampai sekarang.
Hal lain yang mendukung keberhasilan penurunan teks pupujian ini adalah peran serta warga atau masyarakat, dengan niat dan cara yang benar dari dalam diri mereka masing–masing untuk dapat melestarikan tradisi lisan ini yang merupakan warisan dari masyarakat terdahulu yang masih ada sampai sekarang. Inilah beberapa bentuk kepedulian masyarakat terhadap aset bangsa, yang semakin punah seiring kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya, yang memiliki efek terhadap perkembangan tradisi di dalam masyarakat.
2.2.2 Proses Penciptaan Teks Pupujian Adan
Proses penciptaan teks pupujian ini dilatar belakangi oleh rasa ingin melestarikan budaya atau tradisi-tradisi oleh masyarakat, yang bermula dari kebiasaan-kebiasaan para pendahulu yang sering menggunakan pupujian ini, dan tertransformasikan kepada para penerusnya dengan baik hingga sekarang.
Pupujian ini tercipta dari budaya pasantren yang memang banyak terdapat di daerah Indramayu, yang sering mengalunkan sholawat-sholawat. Kemudian oleh para warganya sholawat tersebut dikembangkan menjadi sebuat pupujian dengan menggunakan bahasa jawa, bahasa keseharian mereka, dan masyarakatpun menjadikan pupujian tersebut sebagai suatu rutinitas yang harus dilakukan terutama ketika ingin memulai sholat berjamaah. Sehingga sampai sekarang pupujian tersebut masih ada, dan masih dipergunakan dengan baik.
2.3 Konteks Penuturan Pupujian Adan
Dalam konteks sebuah komunikasi, khususnya dalam pupujian, mungkin tidak semua orang mengerti kata-kata yang terdapat dalam kata tersebut. Agar penuturan lebih komunikatif maka penuturan tersebut kita kaitkan dengan sebuah konteks. Konteks situasi dan budaya digunakan untuk mempermudah pemahaman dalam penuturan agar percakapan atau penuturan lebih mudah dipahami.
2.3.1 Konteks Situasi
Konteks situasi merupakan gamabaran tempat penuturan berlangsung. Konteks situasi digunakan untuk mengetahui gambaran tempat pada saat penuturan atau percakapan berlangsung. Konteks situasi meliputi, waktu punuturan, tujuan penuturan, peralatan yang digunakan pada saat penuturan berlangsung, dan teknik yang digunakan penutur.
2.3.1.1 Waktu
Pupujian adan dilakukan pada saat setelah adzan berkumandang, khususnya pada saat setelah adzan magrib. Durasi atau waktu yang dipakai tidak menentu, sampai para warga berdatangan ke masjid atau mushola untuk mengikuti sholat berjamaah. Tidak harus semua warga datang, tapi ketika jumlah warga yang datang telah mencukupi untuk dilakukannya sholat berjamaah. Maka pupujian tersebut berhenti dialunkan, untuk melaksanakan sholat berjamaah.
2.3.1.2 Tujuan
Tujuan dari pupujian adan tersebut dilantunkan yaitu menyerukan kepada para warga bahwa waktu sholat telah tiba (khususnya pada saat shoat magrib) dan memanggil para warga untuk segera datang ke masjid atau musholah, untuk menunaikan sholat berjamaah. Tujuan lain agar para warga lebih mengingat diri kepada Allah SWT, dan Rasulullah S.a.w yang telah menyerukan kepada kita umatnya untuk selalu menunaikan sholat lima waktu, dan jangan sampai lalai dalam menjalankan sholat, karna nanti akan mendapatkan siksa dari Allah SWT.
2.3.1.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan pada saat penuturan berlangsung yaitu menggunakan, microphone, dan soud system (alat pengeras suara). Terkadang peuturan berlangsung tanpa menggunakan kedua alat tersebut, jika seketika aliran listrik sedang terputus atau ada gangguan pada peralatan. Biasanya jika hal tersebut terjadi penutur lebih melantangkan lagi suaranya, agar terdengar oleh warga di sekitar.
2.3.1.4 Teknik Penuturan
Teknik penuturan yang dipakai pada saat pupujian adan berlangsung yaitu dituturkan secara bersama-sama (rampak) oleh para warga. Para warga melantunkannya secara bersamaan, agar diperoleh suara yang cukup besar dan kompleks. Namun terkadang pupujian tersebut dilantunkan sendiri (monolog), jika warga yang datang ke mushola atau masjid baru seorang. Jadi teknik penuturan pupujian ini tergantung situasi dan kondisi.
2.3.2 Konteks Budaya
Konteks budaya merupakan gambaran dari budaya yang ada dalam pupujian tersebut. Konteks budaya juga berguna untuk lebih memudahkan masyarakat pada umumnya untuk memaknai kata demi kata pada pupujian tersebut.
2.3.2.1 Lokasi
Lokasi dari panuturan pupujian adan ini, berada di desa Cipancuh kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Di lokasi ini banyak tradisi-tradisi lisan yang masih ada, dan dipertahankan oleh para warganya, salah satunya adalah tradisi lisan pupujian adan. Meskipun masih banyak lagi berbagai tradisi-tradisi yang terdapat di desa Cipancuh, namun peneliti khususnya hanya meneliti pupujian adan saja, karena pupujian adan tersebut dianggap lebih menarik untuk diteliti.
2.3.2.2 Penutur
Pada saat melakukan penelitian mengenai pupujian adan, hanya ada beberapa penutur yang sedang melantunkan pupujian adan tersebut di antaranya, mas eka (18 tahun), mas raka (17 tahun), bapak sigit (38 tahun) dan mas Ote (26 tahun) yang merupakan kerabat dari peneliti keempatnya berasal dari desa Cipancuh kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Keempatnya merupakan para aktivis yang sering meramaikan masjid yang letaknya kira-kira 100 meter dari rumah mereka masing-masing.
Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa jawa (Indramayu), begitupun pada pupujian yang mereka lantunkan yang juga menggunakan bahasa jawa (Indramayu). Para penutur melafalkan teksnya hanya ketika ingin memulai sholat berjamaah di masjid. Dengan suasanan khidmat, dan juga bahasa sehari-hari yang sering mereka gunakan.
Pupujian adan ini penutur dapatkan dari transformasi kerabat-kerabat terdahulu dari para penutur, yang memang dengan mudah didapat, karena tidak ada persyaratan khusus selain (penutur harus beragama islam) untuk dengan mudah melafalkan pupujian tersebut. Dan tidak hanya keempat penutur yang tersebut di atas saja yang dapat melafalkan pupujian tersebut. Warga lain juga bisa dan hafal teks pupujian tersebut.
2.3.2.3 Latar Sosial dan Budaya
Latar sosial dan budaya juga mempengaruhi keberadaan pupujian adan ini. Keberadaan masyarakatnya yang memang masih memegang teguh nilai-nilai keagamaan yang kuat, dan juga budaya saling bergotongroyong dalam berbagai hal yang positif. Menimbulkan suatu tradisi-tradisi yang sampai sekarang masih mereka lestarikan seperti tradisi pupujian adan ini.
Kebiasaan para warga khususnya warga Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat, dalam hal interaksi sosial dengan sesama warganya yang berjalan dengan baik. Sehingga tradisi-tradisi yang berada di lingkungan mereka dapat tertransformasikan dengan baik pula. Memang pada dasarnya kebudayaan tradisi yang ada bergantung dari bagaimana cara masyarakat menjaga dan melestarikannya.
2.4 Fungsi
Seperti halnya tradisi-tradisi lain yang sampai sekarang masih hidup dan berkembang di masyarakat. Pupujian yang merupakan bagian tradisi lisan juga mempunyai fungsi dan peran penting dalam kehidupan masyarakatnya. Terlebih pada saat menjalankan kehidupan sehari-hari. Fungsi pertama adalah fungsi sosial. Pupujian adan ini berfungsi sebagai panggilan atau seruan kepada para warganya untuk segera ke masjid menunaikan sholat berjamaah. Hal ini sangat berhubungna erat di mana pupujian digunakan sebagai alat interaksi kepada sesama warga khususnya warga muslim. Hal ini juga dapat lebih mempererat tali persaudaraan di antara para warga khususnya yang berada di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Fungsi kedua yaitu fungsi pendidikan. Fungsi pendidikan juga ada pada teks pupujian tersebut. Pupujian adan mengajarkan kita suatu makna ajaran hidup yang harus dipatuhi agar kehidupan kita menjadi lebih baik, dan tidak menyesal di akhir nanti.
Fungsi yang ketiga pupujian ini berfungsi sebagai sarana penggerak dan peringatan kepada para warga khususnya warga Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat, agar tidak lalai dalam menjalankan perintah agama yaitu sholat lima waktu. Karena akan berakibat buruk jika kita lalai dalam menunikan sholat lima waktu. Fungsi keempat dari pupujian adan ini adalah sebagai bagian dari aset berharga yang dimiliki oleh negara Indonesia, di mana sudah banyak tradisi atau kebudayaan-kebudayaan kita yang telah dicuri oleh negara lain. Hal ini akan menimbulkan kerugian bagi bangsa kita sendiri, jika budaya yang kita jaga hingga kini, harus dirampas dan diakui sebagai budaya atau tradisi negara lain. Fungsi yang kelima dari pupujian ini adalah sebagai curahan ekspresi dari penutur yang secara langsung disampaikan kepada pendengar, atau masyarakat luas. Penutur bebas mengeluarkan ekspresinya ketika melantunkan pupujian ini, asal masih sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, sehingga tidak terjadi kekacauan akibat curahan ekspresi yang salah dari penutur. Curahan ekspresi ini bisa mencakup irama, bunyi yang dilantunkan oleh penutur, pemilihan kata-kata yang akan disampaikan, dan lain-lain.
2.5 Makna
Telah dipaparkan pada pembahsan sebelumnya mengenai makna dari kata-perkata pupujian adan ini. Pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai analisis dari makna yang terkandaung dalam pupujian tersebut.
Secara umum makna yang terkandung dalam pupujian adan ini, adalah menyerukan kepada para warga umat islam khususnya yang berada di sekitar masjid di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat, agar segera datang untuk menunaikan shotat berjamaah. Selain itu juga menyerukan kepada para masyarakat untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu yang sudah di perintahkan Rasullulah kepada kita para pengikutnya. Karena harta atau apapun di dunia ini tidak akan bergunan nanti di akhirat, kecuali amal ibadah kita selama kita hidup di dunia. Yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik.
BAB 3
SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh beberapa simpulan mengenai pengertian pupujian yang meliputi asalusul pupujian dan bentuk pupujian. Struktur yang terdiri dari beberapa aspek, seperti aspek semantit, bunyi, gaya bahasa, dan diksi. Proses penciptaan, yang meliputi proses penurunan teks dan proses penciptaan teks. Konteks penuturan yang terdiri dari konteks situasi dan konteks budaya. Serta fungsi dan makna dari pupujian ada itu sendiri yaitu sebagai berikut :
3.1.1 Struktur
Struktur kalimat pada pupujian adan mengambarkan keinginan para penutur dalam mengalunkan pupujiannya agar terkesan lebih menarik dan enak untuk didengar. Struktur kalimatnya juga menyerupai pantun, yang memiliki kekhasan dalam bunyi-bunyian. Sehingga menambah keunikan pada saat dilantunkan.
Analisis yang terdapat dalam struktur pupujian adan meliputi : analisis formula sintaksis, analisis formula bunyi, irama, gaya bahasa, diksi, dan analisis tema melalui isotopi. Keseluruhannya saling berhubugan satu sama lain sehingga menjadi satu teks yang kompleks kaya akan nilai-nilai yang unik untuk dikaji lebih dalam. Keseluruhan aspek tersebut digunakan dalam menganalisis pupujian adan ini.
Formula sintaksis digunakan untuk mengetahui struktur kalimat dari larik-larik pupujian yang dikaji dari segi fungsi, kategori, dan peran dari setiap lariknya. Secara keseluruhan setiap baris pada pupujian ini memiliki pola kalimat dan unsur-unsur pembentuk kalimatnya.
Formula bunyi yang terdapat di dalam pupujian sangat terasa dari setiap baris. Setiap baris pada pupujian adan memiliki kekhasan bunyi yang cukup menarik untuk didengar. Bunyi-bunyian yang khas dari pupujian ini terdengar dari bunyi di setiap akhiran kata. Kehadiran bunyi asonansi, dan aliterasi semakin menambah unsur bunyi-bunyian yang terdapat pada teks pupujian ini menjadi nilai artistik tersendiri pada pupujian ini. Asonansi dan aliterasi pada teks pupujian ini hampir semuanya merangkap sebagai bunyi akhir pada tiap-tiap barisnya.
Irama dalam teks pupujian setelah adzan ini cukup bervariasi pada setiap suku kata dalam setiap barisnya. Sifat kearbitreran (mana suka) juga mempengaruhi keberagaman pola irama yang terdapat pada pupujian ini. Ketika dilantunkan oleh penutur, irama yang terdengar memang terdengar sama pada pelafalan setiap barisnya, namun ada perbedaan jumlah ketukan yang terdapat setiap kata pada setiap barisnya. Unsur sintaksis juga ternyata mempengaruhi kesamaan irama yang terjadi pada pupujian ini, hal itu dikarenakan jenis kalimat yang kurang lebih memiliki kesamaan dengan jumlah suku kata.
Gaya bahasa yang terdapat dalam pupujian adan ini semakin menambah nilai estetis (keindahan) pada pupujian ini. Ada beberapa majas atau gaya bahasa yang terdapat pada teks pupujian adan ini seperti majas personifikasi, eufimisme, ironi dan majas metonimia. Diksi atau pemilihan kata dalam bahasa jawa (Indramayu) yang digunakan pada teks pupujian tersebut, menggunakan bahasa yang sedang, kata-katanya yang cukup mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya masyarakat di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Indramayu Jawa Barat. Tema yang dari pupujian yang merupakan hasil analisis dari isotopi-isotopi. Seperti isotopi Tuhan, isotopi manusia, isotopi pekerjaan, isotopi, ruang/tempat, dan isotopi benda. Kelima isotopi tersebut menciptakan sebuah tema dari pupujian adan.
3.1.2 Proses Penciptaan
Proses penciptaan teks pupujian ini dilatar belakangi oleh rasa ingin melestarikan budaya atau tradisi-tradisi oleh masyarakat, yang bermula dari kebiasaan-kebiasaan para pendahulu yang sering menggunakan pupujian ini, dan tertransformasikan kepada para penerusnya dengan baik hingga sekarang.
Pupujian yang dahulu sering digunakan oleh orang-orang terdahulu, secra langsung ataupun tidak langsung tersalurkan kepada penerusnya hingga sekarang melalui lisan atau mulut-kemulut. Pepujian ini bersifat umum, sehingga tidak ada kriteria khusus yang harus dimiliki oleh para penuturnya. Hal ini menyebabkan pupujian ini bisa ada sampai sekarang.
3.1.3 Konteks Penuturan
Konteks penuturan yang meliputi konteks situasi dan konteks budaya memberikan pengaruh terhadap kekomunikatifan dalam penuturan pupujian adan ini. Aspek situasi yang meliputi waktu penuturan, tujuan penuturan, peralatan yang digunakan saat penuturan berlangsung, dan teknik penuturan. Konteks budaya yang meliputi lokasi penuturan, para penutur, dan latar sosial budaya.
3.1.4 Fungsi
Pupujian adan ini memiliki fungsi tersendiri untuk masyarakat pada umumnya. Ada beberapa fungsi yang terdapat dalam pupujian adan ini yaitu sebagai berikut :
Fungsi pertama adalah fungsi sosial. Pupujian adan ini berfungsi sebagai panggilan atau seruan kepada para warganya untuk segera ke masjid menunaikan sholat berjamaah. Hal ini sangat berhubungna erat di mana pupujian digunakan sebagai alat interaksi kepada sesama warga khususnya warga muslim. Hal ini juga dapat lebih mempererat tali persaudaraan di antara para warga khususnya yang berada di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
Fungsi kedua yaitu fungsi pendidikan. Fungsi pendidikan juga tertera pada teks pupujian tersebut. Pupujian adan mengajarkan kita suatu makna ajaran hidup yang harus di patuhi agar kehidupan kita menjadi lebih baik, dan tidak menyesal di akhir nanti.
Fungsi yang ketiga pupujian ini berfungsi sebagai sarana penggerak dan peringatan kepada para warga khususnya warga Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat, agar tidak lalai dalah menjalankan perintah agama yaitu sholat lima waktu. Karena akan berakibat buruk jika kita lalai dalam menunikan sholat lima waktu.
Fungsi keempat dari pupujian adan ini adalah sebagai salah satu aset berharga yang dimiliki oleh negara indonesia, di mana sudah banyak tradisi atau kebudayaan-kebudayaan kita yang telah dicuri oleh negara lain. Hal ini akan menimbulkan kerugian bagi bangsa kita sendiri, jika budaya yang kita jaga hingga kini, harus dirampas dan diakui sebagai budaya atau tradisi negara lain.
Fungsi yang kelima dari pupujian ini adalah sebagai curahan ekspresi dari penutur yang secara langsung disampaikan kepada pendengar, atau masyarakat luas. Penutur bebas mengeluarkan ekspresinya ketika melantunkan pupujian ini, asal masih sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, sehingga tidak terjadi kekacauan akibat curahan ekspresi yang salah dari penutur. Curahan ekspresi ini bisa mencakup irama, bunyi yang dilantunkan oleh penutur, pemilihan kata-kata yang akan disampaikan, dan lain-lain.
3.1.5 Makna
Secara umum makna yang terkandung dalam pupujian adan ini, adalah menyerukan kepada para warga umat islam khususnya yang berada di sekitar masjid di Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Jawa Barat, agar segera datang untuk menunaikan shotat berjamaah. Selai itu juga menyerukan kepada para masyarakat untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu yang sudah di perintahkan Rasullullah kepada kita para pengikutnya. Karena harta atau apapun di dunia ini tidak akan bergunan nanti di akhirat, kecuali amal ibadah kita selama kita hidup di dunia. Yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik.
3.2 Saran
Pupujian ini merupakan salahsatu dari sebagian banyak variasi pupujian yang ada dan tersebar di wilayah indonesia. Sebenarnya masih banyak lagi pupujian selain pupujian adan ini, yang seharusnya ikut diteliti keberadaannya.
Beranjak dari latar belakang peelitian ini, yaitu rasa ingin melestarikan budaya atau tradisi-tradisi yang ada di Indonesia khususnya yang memang sudah kurang diperhatikan keberadaannya, dan ada yang sudah hampir punah. Diharapkan untuk penelitian kedepannya agar lebih baik lagi dari penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya. Karena penelitian yang kita lakukan bukan hanya untuk kepentingan pribadi saja melainkan demi kepentingan negeri kita Indonesia dalam upaya untuk melestarikan budaya atau tradisi-tradisi yang negeri kita miliki.
BAB 4
LAMPIRAN
4.1 Catatan Pemeriksa (Drs. Memen Durachman, M. Hum)
1. Lebih memahami lagi struktur kalimat (sintaksis) yang terdapat pada teks pupujian.
2. Membuat riview dari irama, jangan hanya berupa tabel saja.
3. Ada penambahan majas eufimisme.
4. Perubahan motif 1 pada bagan isotopi, yang tadinya motif pertama tentang Tuhan, menjadi tentang keagamaan.
5. Teknik penuturan lebih diperjelas, apakah rampak, secara bersamaan, atau sediri.
4.2 Data Informan
Nama : Sapto Wirahadi Eka Prasetya
Umur : 18 Tahun
TTL : 11 April 1992
Pekerjaan : Mahasiswa
Hubungan dengan Peneliti : Kerabat dekat peneliti
Sumber Tuturan : Kakek dan para tetangga dekat informan
4.3 Data Perekaman
Waktu : 6 November 2010 Pukul 17.55
Tempat : Desa Cipancuh Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat
Tujuan Penuturan : Pupujian dilakukan bertujuan untuk mengajak warga untuk segera datang ke masjid melaksanakan sholat magrib berjamaan
Suasana : khidmat
DAFTAR PUSTAKA
Damayanti S, Vismaia. 2006. Sintaksis Bahasa Indonesia. Bandung: Pusat Studi Literasi
Hutomo, Suripan Sadi. 1989. Mutiara yang Terlupakan. HISKI: Cabang Surabaya.
Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kosa Kata Bahasa Indonesia.
Santoso, Ananda. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: ALUMNI Surabaya