Analisis Fenomenologis pada Puisi Chairil Anwar “Aku”
AKU
Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya.
Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Dengan cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga
8 Juni 1943
Analisis Lapis Bunyi
Pada bait pertama : “Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak
Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya”
Dapat diperhatikan pada baris pertama aliterasi bunyi /n/ yang terjadi pada kata /melangkahkan/ /bukan/ jika dibacakan ‘Melangkahkan aku bukan’ akan terdengar dominan bunyi /n/ yang terdengar cukup jelas. Ditambah dengan kata selanjutnya masih pada baris pertama terjadi aliterasi bunyi huruf /k/ yang terjadi pada akhir ujaran pada kata /tuak/ /menggelegak/ yang memberikan kekhasan bunyi tersendiri pada baris pertama, bait pertama. Hal ini menimbulkan kombinasi bunyi yang terdengar parau, tajam di telinga, dan tidak enak didengar (kakofoni), pada akhir baris bait pertama yang ditimbulkan oleh kata /tuak/ /menggelegak/. Pada baris kedua bait pertama kembali terjadi gabungan asonansi dan aliterasi bunyi huruf /u/ dan /n/ pada kata /cumbu/ /buatan / /satu/ biduan/, sehingga terdengar bunyi u-n-u-n, yang menjadi ciri khas pada baris kedua bait pertama ini.
Akhiran bunyi tersebut menimbulkan efek orkestrasi yang merdu (efoni) yang ditimbulkan oleh kombinasi akhiran u-n-u-n dan terasa ringan ketika dibaca. Sedangkan pada baris ketiga terjadi aliterasi yang pada kata /kujauhi/ /ahli/ /serta/ /agama/ /katanya/, yang teredengar bunyi akhiran i-i-a-a-a, sehingga menimbulkan komposisi bunyi yang terdengar merdu meskipun aga berat ketika diucapkan.
Pada bait kedua : “Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Dengan cacar melebar, barah bernanah
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga”
Dapat diperhatikat pada bait kedua jika dibacakan baris pertama dan kedua akan terdengar bunyi yang ditimbulkan oleh kata /hidup/ yang terdapat pada
Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak bergerak
Bunyi tersebut dihasilkan oleh kata yang sama namun pada baris yang berbeda dalam sata bait sehingga menimbulkan efek penekanan pada kata /hidup/. Pada baris kedua bait pertama terjadi aliterasi yang ditimbulkan oleh huruf akhiran /k/ pada kata /tampak/ /bergerak/, sehingga menimbulkan efek parau, atau kurang enak untuk didengar (kakofini), yang dihasilkan oleh bunyi akhiran /k/ ketika dibacakan. Pada baris ketiga bait kedua ‘Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga’, terdengar bunyi akhiran /m/ yang lebih mendominasi pada baris ketiga ini yang ditimbuklan oleh kata /senyum/ /minum/ sehingga menimbulkan efek orkestrasi yang merdu ketika dibacakan.
Analisis Lapis Arti
Dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku”, ternyata terdapat satuan-satuan arti yang berupa kata, kelompok kata, dan kalimat.
Lapis arti dalam kata dan kumpulan kata :
Melangkahkan aku : ada sesuatu yang membuat si aku tergerak langkahnya untuk melakukan sesuatu hal.
Bukan tuak menggelegak : bukan karena meminum tuak yang membuat si aku tergerak langkahnya
Cumbu-buatan satu biduan : sendagurau yang dilakukan oleh seorang penyanyi yang menarik hati s aku.
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya : si penyanyi berkata bahwa prilaku si aku telah menyimpang dari agama yang dianutnya, dan menjauhkan diri dari tongkat atau tiang yang telah ia pegang sebelumnya (ajaran agama).
Aku hidup : si aku masih dalam kehidupannya
Dalam hidup di mata tampak bergerak : dalam kehidupannya terlihat sesuatu yang tampak dalam diri si aku.
Dengan cacar melebar, barah bernanah : disertai penyakit cacar yang semakin parah, disertai bisul yang sudah bernanah (dosa yang semakin menyelimuti tubuhnya)
Dan kadang satu senyum kukucup-minum dalam dahaga : terkadang senyuman manis yang si aku rasakan, yang dapat menghilangkan luka di tubuhnya.
Analisis Lapis Dunia Imajinasi Pengarang
Puisi “Aku” mengisahkan tentang keadaan sosok si aku yang tergerak langkahnya oleh sesuatu, bukan karna meminum tuak, si aku tergerah hatinya tapi karna si aku melihat seorang biduan kemudian menghampirinya (penyanyi wanita). Sambil bersendagurau biduan itu berkata bahwa si aku merupakan orang yang sedang jauh dari agama yang dianutnya, serta telah membuang jauh-jauh kepercayaan (iman) yang sebelumnya ia jadikan pegangan hidupnya. Si aku yang masih hidup, melihat dirinya dapat bergerak bebas, namun dengan kondisi tubuh yang sakit parah (berlumur dosa), dan hanya senyumlah yang dapat sedikit mengobati lukanya.
Analisis Lapis Dunia yang Implisit
Dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku”, si aku merupakan sosok seorang yang merasa dirinya sedang terjerumus kedalam lembah kenistaan, si aku yang dahulu sangat religius dan iman yang dulu ia pegang seakan telah ia jauhi, dengan perbuatan dosa yang sekarang sering ia lakukan. Ia merasa tubuhnya sudah terluka parah (berlumur dosa) sulit sembuh (sulit terampuni). Ia hanya dapat tersenyum melihat keadaannya yang sekarang.
Analisis Lapis Metafisika
Dalam puisi ini terlihat makna filosofi kesedihan dan ketragisan yang dialami oleh manusia. Tergambar dari sosok si aku, yang cukup miris melihat dirinya sendiri penuh dengan dosa yang menyelimuti tubuhnya. Ia merasa dirinya telah jauh berubah dari sebelumnya, yang semula memiliki jiwa religius yang cukup tinggi sekarang berubah menjadi sosok manusia yang hina. Si aku merasa ia hanya bisa menghadapi semua masalah ini dengan senyuman yang memang hanya cara itulah yang dapat ia lakukan, agar dirinya tidak merasa terus-menerus tertekan.
Analisis Satuan-Satuan Arti Estetis
Dalam puisi “aku”, ada beberapa kata yang dipilih Chairil Anwar untuk memberikan efek atau arti yang berbeda dan memiliki nilai estetis yang dapat mempengaruhi komposisi kata dari puisi tersebut, misalnya pada kata menggelegak, mangapa tidak dipakai kata meminum? Hal ini mungkin si penyair ingin memunculkan asonansi /k/ yang sangat terasa pada baris pertama bait pertama sehingga memberikan kekhasan yang timbul dari baris pertama. Contoh lain masih dalam bait pertama, si penyair menggunakan kata biduan bukan penyanyi, hal ini dimaksudkan agar terjadi kombinasi bunyi-bunyian yang khas yang terjadi pada baris kedua pada kata biduan yang berakhiran /n/, menimbulkan komposisi bunyi u-n-u-n pada bari ketiga, dan masih banyak lagi contoh lainnya pada puisi “aku”, yang menimbulkan komposisi bunyi-bunyian yang khas dari setiap barisnya dari setiap kata yang digunakan. Sehingga memberikan kesan estetis bagi yang membaca dan mendengarkannya.