ANALISIS RAHASIA TANDA DALAM PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO ‘CERMIN 1’
Oleh :
Rizki Hidayatullah
ABSTRAK. Bahasa yang merupakan media dari sebuah karya sastra, khususnya pada sebuah puisi. Di dalamnya terdapat sebuah makna, yang secara langsung ataupun tidak langsung tertuang dalam sebuah bentuk tanda (bahasa). Tanda itu bisa kita interpretasikan, agar kita dapat mengetahui makna yang terkandung di dalam tanda tersebut. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam memahami suatu tanda yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Ketiganya akan saling mempengaruhi satu sama lain dalam hal mengungkap gejala-gejala yang timbul pada sebuah tanda.
Kata kunci : tanda (bahasa), sintaksis, semantik, dan pragmatik.
PENDAHULUAN
1 laporan ini disusun sebagai salahsatu persyaratan akademik dalam menempuh perkuliahan dan kelulusan matakuliah Kajian Puisi yang diampuh oleh Drs. Ma’mur Saadie, M.Pd. yang diasisteni oleh Rudi Adi Nugroho, M.Pd
| |
Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti yang sudah konvensional. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik. Begitu juga ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda itu disebut semiotika.
Dalam memahami sebuah tanda khususnya dalam sebuah karya sastra berupa puisi, setiap individu pasti memiliki interpretasi yang berbeda. Hal itu merupakan sebuah bentuk kewajaran yang pasti akan terjadi. Begitu juga dalam menginterpretasikan sebuah puisi, yang di dalamnya terdapat tanda-tanda (bahasa) yang memiliki makna tersendiri di balik tanda-tanda tersebut. Dalam salahsatu puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul ‘CERMIN 1’ terdapat juga tanda-tanda yang memiliki makna tersendiri dari tanda-tanda tersebut. Sapardi Djoko Damono mencoba menyampaikan sesuatu memalui sebuah tanda dalam sebuah karya sastranya yang berupa puisi. Hal tersebut yang menarik penulis untuk mengkaji lebih dalam mengenai rahasia apa yang sebenarnya berada di balik tanda-tanda tersebut, sekaligus mengkaji makan-makna yang terkandung dalam puisi yang berjudul ‘CERMIN 1’ karya Sapardi Djoko Damono.
PEMBAHASAN
Analisis Sintaksis
Dalam sebuah karya sastra khususnya pada sebuah puisi biasanya kita sering merasakan struktur kata yang tidak sesuai dengan kaidah sintaksis, seperti penggunaan huruf besar atau huruf kecil yang selalu digunakan pada setiap awal larik yang tidak disertai dengan tanda titik pada akhir larik. Hal itu tidak terlepas dari kebebasan berkreasi dari setiap pancipta karya tersebut. Mungkin sebenarnya ada maksud tersendiri dari cara penulisan struktur kata yang tidak sesuai aturan kaidah sintaksis. Kita tidak bisa menyalahkan para kreator sastra, karena dalam menulis sebuah karya sastra dikenal dengan adanya ‘seni dalam berkarya’. Jadi hal tersebut sah-sah saja. Para penyair atau pencipta karya sastra menulisi karya sastranya dengan sedemikian rupa, pastilah memiliki maksud dan tujuan tersendiri.
Pada bagian ini akan dianalisis struktur kata dari puisi karya Sapardi Djoko Damono ‘ CERMIN 1’. Analisis sintaksis ini bertujuan untuk mengetahui struktur kata demi kata yang terdapat dalam puisi Sapardi Djoko Damono ‘CERMIN 1’. Struktur kata yang dianalisis mulai dari fungsi, kategori, dan peran. Berikut ini adalah hasil analisis berdasarkan formula sintaksis.
Teks puisi
CERMIN 1
cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
1980
Dalam menganalisis dari segi sintaksisnya, terlebih dahulu penulis membuat jeda atau intonasi, pada saat pembacaan puisi tersebut, agar dapat memudahkan penulis untuk mengkaji dari segi sintaksisnya.
cermin tak pernah berteriak;// ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,//
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya//
barangkali ia hanya bisa bertanya://
mengapa kau seperti kehabisan suara?//
tanda (//) merupakan sebagai jeda dalam pelafalan puisi tersebut, yang bertujuan agar memudahkan dalam menganalisis puisi tersebut.
Pada bagian jeda pertama merupakan bentuk klausa yang berpola S-P. Dapat diperhatikan dalam tabel berikut.
| Analisis Sintaksis | cermin | tak pernah berteriak |
| Fungsi | S | P |
| Kategori | Nomina | Verba |
| Peran | Alat | Perbuatan |
Dari hasil analisis di atas dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘cermin’, yang berkategori nomina (benda), dan berperan sebagai alat. Fungsi predikat diisi oleh ‘tak pernah berteriak’, yang berkategori verba, dan berperan menyatakan perbuatan.
Pada bagian jeda kedua terdapat sebuah klausa yang berpola S-P. Dapat diperhatikan pada tebel berikut.
| Analisis Sintaksis | ia pun | tak pernah meraung, tersedan, atau terisak |
| Fungsi | S+Partikel | P |
| Kategori | Nomina | Verba |
| Peran | Benda | Perbuatan |
Dari hasil analisis di atas dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘ia pun’, yang sesudahnya terdapat penambahan partikel ‘pun’, yang berkategori nomina, dan berperan sebagai alat. Fungsi predikat diisi oleh ‘tak pernah meraung, tersedan, atau terisak’, yang berkategori verba, dan berperan sebagai pebuatan. ‘ia’ pada konteks tersebut sebagai kata ganti dari ‘cermin’.
Pada bagian jeda ketiga, yang merupakan larik ketiga, terdapat klausa yang berpola S+P+Preposisional. Dapat diperhatikan pada tabel berikut.
| Analisis Sintaksis | meski apa pun | terbalik | di dalamnya |
| Fungsi | S+partikel | P | preposisional |
| Kategori | Nomina | verba | Nomina |
| Peran | Bermacam-macam | kondisi | tempat |
Dari hasil anaisis di atas dapat diketahui bahwa fungsi subjek+partikel diisi oleh ‘meski apa pun’, yang berkategori nomina, dan berperan menunjukkan bermacam-macam. Fungsi predikat diisi oleh ‘terbalik’, yang berketegori verba, dan berperan menyatakan kondisi. Fungsi preposisional diisi oleh ‘di dalamnya’ yang berkategori nomina, dan berperan menyatakan tempat.
Pada bagian jeda keempat, yang merupakan larik keempat, terdapat klausa yang berpola konj+S+P. Dapat diperhatikan pada tabel berikut.
| Analisis Sintaksis | barangkali ia | hanya bisa bertanya |
| Fungsi | Konj + S | P |
| Kategori | Nomina | Verba |
| Peran | pelaku | perbuatan |
Dari hasil analisis di atas dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘ia’, yang sebelumnya didahului oleh konjungsi ‘barangkali’, yang berkategori nomina, dan berperan sebagai pelaku. Fungsi predikat diisi oleh ‘hanya bisa bertanya’ yang berkategori verba, dan berperan menyatakan perbuatan.
Pada penggalan jeda yang terakhir, yang juga merupakan larik terakhir, terdapat sebuah klausa yang berpola S-P-O. Dapat diperhatkan pada tabel berikut.
| Analisis Sintaksis | mengapa kau | seperti kehabisan | suara |
| Fungsi | S | P | O |
| Kategori | nomina | verba | nomina |
| Peran | pelaku | kondisi | benda (abstrak) |
Dari hasil analisis di atas dapat diketahui bahwa fungsi subjek diisi oleh ‘kau’, yang sebelumnya didahului oleh konjungsi mengapa (kata tanya), yang berkategori nomina, dan berperan menunjukkan pelaku. Fungsi predikat diisi oleh ‘seperti kehabisan’, yang berkategori verba, dan berperan menyatakan kondisi. Fungsi objek diisi oleh suara, yang berkategori nomina, dan berperan menyatakan sebuah benda (abstrak).
Dari hasil analisis sintaksis, kita dapat mengetahui fungsi, kategori, dan peran, yang terdapat dalam sturuktur puisi yang berjudul ‘CERMIN 1’ karya Sapardi Djoko Damono. Struktur kata atau kalimat yang digunakan Sapardi memang tidak sesuai dari kaidah penulisan sebuah karya tulis, dapat dilihat dari penggunaan huruf kecil disetiap larik puisi tersebut padahal pada akhir bait ditandai dengan tanda titik (.). Namun, kita tidak dapat menyalahkan hal itu, karena dalam menciptakan sebuah karya sastra atau seni, dikenal dengan istilah ‘kebebasan dalam berkreasi atau seni dalam berkreasi’. Mungkin Sapardi membuat karyanya seperti itu dengan maksud tertu, misalnya untuk menambah nilai estetis pada karyanya, dan lain sebagainya. Jadi hal tersebut sah-sah saja dalam membuat sebuah karya seni atau karya sastra.
Analisis Semantik
Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang tanda pada bahasa sekaligus makna yang terkandug di dalam tanda atau lambang. Pada sebuah karya sastra para pencipta karya sastra biasanya selalu memasukkan tanda (bahasa), yang pastinya memiliki makna tersendiri dari tanda tersebut, hal tersebut bertujuan memberikan kesan estetis pada karya sastranya. Tanda-tanda atau lambang-lambang pada sebuah karya sastra khususnya dalam sebuah puisi, pastinya memiliki makna yang secara langsung ataupun tidak langsung disapaikan oleh para pencipta karya sastra kepada para penikmat sastra.
Pada puisi karya Sapardi Djoko Damono, terdapat tanda-tanda atau lambang-lambang yang terkandung makna di dalamnya.
Dapat diperhatikan teks puisi yang berjudul ‘CERMIN 1’ karya Sapardi Djoko Damono.
CERMIN 1
cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
1980
Pada bagian judul ‘CERMIN’ dalam artian sebenarnya adalah sebuah benda mati yang terbuat dari kaca bening, sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ditaruh di depannya, biasanya untuk melihat wajah dan wujud fisik ketika bersolek dan sebagainya. Ketika kita bercermin pasti kita akan melihat gambaran fisik kita. Cermin melambangkan alat untuk melihat gambaran fisik kita, atau sebuah benda yang berada di depannya.
Pada larik pertama, kedua, dan ketiga:
‘cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya’
Cermin merupakan benda mati, hal itu ditandai dari gambaran sebuah cermin yang tidak pernah berteriak, meraung, tersedan dan terisak, dan merupakan sifat asli dari sebuah benda mati yang memang tidak dapat melakukan aktivitas seperti halnya makhluk hidup. Hal ini sangatlah wajar terjadi, dan semua orang pasti beranggapan demikian (konvensional), bahwa cermin yang memang benar-benar benda mati, pastilah tidak akan bisa berprilaku seperti makhluk hidup (berteriak, meraung, tersedan, atau terisak). Meski apa pun benda yang tergambar pada cermin. Cermin hanya menggambarkan benda yang hanya ada di hadapannya saja. Tidak dapat berkomentar apapun dari apa yang ada di dalamnya.
Pada larik keempat dan kelima; ‘barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
Makna pada larik keempat dan kelima, cermin digambarkan seperti halnya manusia. Hal tersebut ditandai dari pernyataan sebuah cermin yang mungkin bisa bertanya kepada sesuatu atau benda yang berada di hapadan cermin.
Banyak majas personifikasi yang digunakan dalam puisi ini seperti
‘cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya
barangkali ia hanya bisa bertanya’.
Pada larik-larik di atas menggambarkan cermin yang pada dasarnya merupakan benda mati, di gambarkan sebagai benda hidup yang dapat melakukan aktivitas separti makhluk hidup pada umumnya.
Metafor-metafor yang terjadi pada puisi ini, menyiratkan makna mendalam, tentang sebuah makna cermin, sebagai benda mati yang sehari-hari dugunakan oleh manusia untuk melihat dirinya. Ternyata menyimpan keunikan tersendiri dari apa yang digambarkan oleh cermin tersebut.
Analisis Pragmatik
Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk linguistik (tuturan) dengan si pemakai bentuk tersebut. Dengan demikian, pragmatik selalu menghubungkan makna bentuk linguistik dengan pemakainya (penutur). Definisi pragmatik lainnya dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan
Dalam menginterpretasikan sebuah tanda pastilah mayoritas orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Pada sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono ‘CERMIN 1’ terdapat tanda-tanda yang memiliki makna tersendiri di dalamnya.
Sapardi mengomunikasikan kepada pembaca dengan menuangkan maksud dan tujuannya pada sebuah tanda, yang nantinya dapat kita interpretasikan sesuai dengan tanda atau lambang (bahasa) yang ada pada karya tersebut. Dapat diperhatikan teks puisi yang berjudul ‘CERMIN 1’ karya Sapardi Djoko Damono.
CERMIN 1
cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
1980
Sebuah tanda mempunyai suatu makna tersediri, yang dapat kita interpretasikan dengan logika berfikir kita. Pada puisi Sapardi Djoko Damono ‘CERMIN1’, dapat kita tangkap makna yang terdapat dalam puisi tersebut. Kalau kita cermati lebih dalam mengenai makna yang tersirat pada puisi ini, kita akan mendapatkan suatu kesan kereliguisan dari puisi ini. Sapardi coba mengomunikasikan sesuatu yang ingin dia sampaikan dengan perlambangan sebuah cermin.
Dimulai dari judul ‘CERMIN’ yang merupakan benda mati, dan sebagai alat yang seringkali kita gunakan untuk melihat diri kita apa adanya (secara fisik). Sebuah cermin dapat kita interpretasikan sebagai simbol atau tanda cerminan atau gambaran seseorang secara nyata, yang bisa dilihat dari luarnya saja. Ketika seseorang bercermin pastilah orang itu akan mengetahui bahwa seperti apa, bentuk tubuh, warna kulit, dan lain sebagainya, yang merupakan bagian luar dari tubuh orang tersebut.
Pada larik pertama dan kedua : ‘cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedang, atau terisak’,
pada kedua larik di atas menggambarkan lebih jelas tentang sifat yang terdapat pada sebuah cermin, yang telah dibahas sebelumnya. Sebuah cermin memang tidak akan pernah berteriak, dan sebuah cermin tidak akan pernah meraung, tersedan, atau terisak. Hal ini merupakan sebuah kewajaran dari sifat yang dimiliki oleh sebuah benda mati (cermin). Namun di balik itu semua terdapat sebuah maksud yang ingin disampaikan, bahwa sebuah cermin merupakan gambaran kita selama kita hidup di dunia. Ketika kita hidup sudah berapa banyak dosa yang telah kita dapat, namun cermin tetaplah cermin. Meskipun sebanyak apapun dosa yang telah kita dapat. Ketika di hadapan sebuah cermin wujud kita tidak akan pernah berubah, karna dosa-dosa yang telah kita dapat tidak akan pernah terlihat pada sebuah cermin. Hal itu lebih diperkuat lagi dengan adanya larik ketiga,
‘meski apa pun jadi terbalik di dalamnya’
Ketika kita bercermin, pastilah kebalikan wujud kita yang akan berada dalam cermin tersebut, seperti letak tangan kanan, kekita kita bercermin letak tangan kanan pada cermin menjadi berada di sebelah kiri. Meski apapun yang terjadi wujud kita pada sebuah cermin, akan tetap seperti itu. Cermin hanya menggambarkan wujud kita dari luarnya saja, tidak akan memperlihatkan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Cerminpun tidak akan pernah berteriak, meraung, tersedan atau terisak, meski apapun yang terjadi di dalam diri kita yang tergambar pada sebauh cermin, mengenai sifat atau prilaku kita yang memang tidak terlihat dari luar, seperti perbuatan dosa yang telah kita lakukan.
Pada larik keempat dan kelima, ‘barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?’
Cermin yang merupakan benda mati, yang tidak bisa berkata apapun megenai gambaran fisik seseorang dari laur ataupun dari dalam. Mungkin cermin hanya bisa bertanya-tanya, ‘Mengapa? Gambaran seseorang yang sempurna secara fisik, namun di dalam diri orang tersebut tersimpan banyak dosa-dosa’. Mungkin itu yang ingin disampaikan cermin kepada kita, ketika kita bercermin, dengan kesempurnaan kita yang tergambar pada cermin tersebut. Kita mungkin akan terdiam jika kita merenungkan diri kita, tingkah laku kita, dan perbuatan-perbuatan kita yang secara sadar ataupun tidak sadar, bahwa sudah berapa banyak dosa-dosa yang telah kita dapat. Orang lain mungkin tidak akan tahu, dan cermin pun tak akan pernah berkomentar mengenai isi dalam diri kita. Kita akan terdiam jika kita benar-benar berkaca pada sebuah cermin. Ketika kita melihat diri kita secara jelas dari luar, yang memang telihat baik secara fisik, namun menyimpan banyak kejelekan dalam diri kita.
Dalam hidup pastilah setiap manusia memiliki kekurangan, baik yang nampak ataupun yang tidak terlihat. Kita harus berkaca pada sebuah cermin, sekaligus merenung tentang apa-apa saja prilaku yang telah kita perbuat selama kita hidup di dunia, sebagai bahan untuk merubah diri kita menuju pribadi yang lebih baik lagi.
Pada puisi yang berjudul ‘CERMIN 1’ karya Sapardi Djoko Damono, terdapat metafor-metafor yang digunakan oleh Sapardi dalam karyanya untuk menambah kesan estetis pada karyanya. Seperti majas-majas personifikasi yang sering muncul : ‘cermin tak pernah berteriak, ia pun tak pernah meraung, tesedan atau terisak’. Jadi terungkaplah rahasia dari tada-tanda yang terdapat pada puisi yang berjudul ‘Cermin1’. Penulis melambangkan sebuah cermin, sebagai gambaran diri kita yang sebenarnya dan apa adanya secara fisik yang hanya terlihat dari luarnya saja, dan tidak terlihat bagian dalam dari diri kita, sebagai bahan pembelajara dan renungan kepada setiap pribadi manusia, agar selalu ingat terhadap dosa-dosa yang telah diperbuat dan tidak akan mengulangi dosa-dosa tersebut, agar menuju pribadi yang lebih baik.
SIMPULAN
Karya sastra merupakan suatu hasil cipta seseorang. Seorang pencipta karya, biasanya membuat suatu karya, dengan maksud dan tujuan tertentu. Karya sastra dari Sapardi Djoko Damono misalnya dalam puisinya yang berjudul ‘CERMIN 1’, beliau mencoba mengominikasikan suatu pengalaman hidup yang pernah beliau alami. Dengan menggunakan perlambangan sebuah cermin, yang merupakan sebuah benda yang sudah tidak asing bagi kita. Dalam karyanya tersebut Sapardi memberikan tanda-tanda yang setiap tanda itu memiliki makna tersendiri, yang dapat kita interpretasikan dengan akal pikiran kita. Meskipun pada kenyataanya belum tentu apa yang kita interpertasikan sepaham dengan pemikiran atau maksud dari yang ingin disampaikan oleh pencipta karya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Djoko Damono, Sapardi. 1994. HUJAN BULAN JUNI. Jakarta: PT Grasindo
Djoko Pradopo, Racmat. 2009. Pengkajian PUISI. Yogyakarta: Gadjah Mada University